Taksonomi Bloom

Taksonomi Bloom
Dalam pendidikan, taksonomi ini dimanfaatkan dalam pengklasifikasian suatu tujuan pendidikan. Salah satunya adalah Taksonomi Bloom. Simak penjelasannya dalam artikel ini

Tujuan pendidikan ini dibagi menjadi beberapa tujuan, yang diantaranya ada kognitif, afektif serta psikomotor.

Untuk lebih jelasnya terkait model taksonomi bloom, simak penjelasannya berikut.

Pengertian Taksonomi Bloom

Pengertian Taksonomi Bloom

Taksonomi berasal dari bahasa Yunani yang memiliki arti mengklasifikasikan dan aturan. Jadi taksonomi ialah klasifikasi atas aturan.

Kemudian, istilah ini dikembangkan oleh Benjamin, S. Bloom, yaitu seorang psikolog dalam bidang pendidikan yang sedang melaksanakan kegiatan penelitian dan pengembangan terkait kemampuan dalam berpikir.

Sejarah mengenai taksonomi bloom ini berawal dari Konferensi Asosiasi Psikolog Amerika pada tahun 1950an.

Bloom beserta teman-temannya menyatakan bahwa dari ulasan hasil belajar yang banyak terdapat di sekolah, ternyata memiliki presentasi terbanyak dalam kegiatan mengutarakan hafalan.

Bloom berpendapat, tingkat yang terendah dalam kemampuan berpikir itu ialah sebuah kegiatan hafalan.

Padahal masih maraknya level lain yang lebih tinggi untuk dapat dicapai oleh peserta didik, sehingga pembelajaran dapat menciptakan peserta didik yang berkemampuan di tiap bidangnya.

Pada akhirnya tahun 1956, Bloom, Englehart, Furst, Hill dan Krathwohl sukses mengembangkan konsep dalam kemampuan berpikir yang diberi nama taksonomi Bloom.

Jadi dapat disimpulkan bahwa taksonomi bloom ialah struktur yang melakukan identifikasi skill, yang diawali dari tingkat yang rendah menuju tingkat yang lebih tinggi.

Pastinya dalam pencapaian tingkat yang yang lebih tinggi harus melewati tingkat yang terendah dulu.

Baca juga artikel Level Kognitif

Tujuan Pendidikan Taksonomi Bloom

NoTujuan Pendidikan Taksonomi Bloom
1Kognitif (Cognitive Domain)
2Psikomotorik (Psychomotor Domain)
3Afektif (Affective Domain)

Bloom telah membagi tujuan pendidikan taksonomi menjadi tiga ranah kemampuan intelektual, diantaranya sebagai berikut :

1. Kognitif (Cognitive Domain)

Kognitif (Cognitive Domain)

Hal ini membahas tentang perilaku yang menitikberatkan pada aspek intelektual, yang mencakup pengertian, pengetahuan, serta keterampilan dalam berpikir.

2. Psikomotorik (Psychomotor Domain)

Psikomotorik (Psychomotor Domain)

Ini mengenai perilaku yang lebih menitikberatkan pada aspek keterampilan mentorik. Aspek keterampilan mentorik mencakup mengoprasikan mesin, tulisan tangan, berenang, dan mengetik.

3. Afektif (Affective Domain)

Afektif (Affective Domain)

Hal ini membahas tentang perilaku yang menitikberatkan pada aspek perasaan serta emosi.

Aspek perasaan ini mencakup apresiasi, sikap,  minat, serta cara menyesuaikan diri.

Kognitif Taksonomi Bloom (Revisi)

NoKognitif Taksonomi Bloom (Revisi)
1Level 1 Pengetahuan (Knowledge)
2Level 2 Pemahaman (Comprehension)
3Level 3 Applying (Aplikasi)
4Level 4 Analyzing (Analisis)
5Level 5 Sintesis (Synthesis)
6Level 6 Evaluasi (Evaluation)

Terdapat beberapa level dalam kognitif taksonomi bloom, diantaranya sebagai berikut :

1. Level 1 Pengetahuan (Knowledge)

 Level 1 Pengetahuan (Knowledge)

Level awal pengetahuan ini ialah kemampuan seseorang dalam kegiatan mengingat-ingat atau mengenali kembali terkait istilah-istilah, ide, berbagai rumus, dan lain-lain.

Kemampuan ini dapat disebut sebagai kegiatan berpikir yang paling rendah.

2. Level 2 Pemahaman (Comprehension)

Level 2 Pemahaman (Comprehension)

Level pemahaman ini ialah kemampuan seseorang agar dapat memahami dan mengerti terkait suatu hal, apabila hal tersebut sudah diingat dan diketahui.

Dapat dikatakan pula bahwa memahami ialah kegiatan mengetahui sesuatu dari berbagai segi.

Ketika peserta didik memahami sesuatu, bisa dikatakan peserta didik tersebut berhasil apabila dapat memberi penjelasan dan mendeskripsikan lebih rinci terkait hal yang sudah dipahami tersebut dengan menggunakan kata-kata nya sendiri.

3. Level 3 Applying (Aplikasi)

Level 3 Applying (Aplikasi)

Level applying berarti kemampuan peserta didik dalam penggunaan dan penerapan materi yang telah dipahami pada kondisi yang baru.

Dalam menggunakan materi ini juga terkait pada penggunaan aturan serta prinsipnya. Sebab penerapan ialah suatu kemampuan berpikir yang dimiliki oleh peserta didik yang posisinya lebih tinggi dari pada pemahaman.

4. Level 4 Analyzing (Analisis)

Level 4 Analyzing (Analisis)

Level analisis ialah sebuah kemampuan dalam menguraikan dan merinci suatu bahan menjadikan bagian-bagian yang lebih kecil lagi serta dapat memahami keterkaitan atara beberapa bagian ataupun fakfor satu dengan yang lain.

5. Level 5 Sintesis (Synthesis)

Level 5 Sintesis (Synthesis)

Level sintesis ini merupakan kebalikan dari level analisis. Yaitu level sintesis ialah pemaduan unsur-unsur dan bagian-bagian secara logis.

Maka nantinya akan menjadi sebuah pola yang memiliki struktur baik dan bentuk pola yang baru.

6. Level 6 Evaluasi (Evaluation)

Level 6 Evaluasi (Evaluation)

Level evaluasi merupakan kegiatan dalam taksonomi bloom berupa jenjang berpikir yang paling tinggi pada tahap kognitif.

Evaluasi dapat disebut kemampuan dalam membuat sebuah pertimbangan terhadap kondisi yang ada.

Seperti contoh apabila terdapat seseorang yang dihadapkan pada berbagai macam pilihan, pastinya ia akan memilih satu yang terbaik.

Hal ini sesuai dengan pedoman-pedoman dan kriteria yang telah ditentukan.

Simak juga Landasan Teori

Afektif (Revisi)

NoAfektif (Revisi)
1Level Penerimaan (Receiving/Attending)
2Level Tanggapan (Responding)
3Level Penghargaan (Valuing)
4Level Pengorganisasian (Organization)
5Level Karakterisasi Berlandaskan Nilai

Terdapat beberapa level dalam afektif taksonomi bloom, diantaranya sebagai berikut :

1. Level Penerimaan (Receiving/Attending)

Level Penerimaan (Receiving/Attending)

Dalam level penerimaan ini, terjadinya kepekaan seseorang pada saat menerima rangsangan dari luar berupa situasi, masalah, gejala dan lain sebagainya.

Dalam level ini juga meliputi keinginan serta kesadaran dalam menerima rangsangan, melakukan seleksi dan mengatur gejala-gejala atau stimulus yang datang dari luar.

Level penerimaan ini, sering diartikan sebagai keinginan melakukan kegiatan dalam hal memperhatikan suatu objek.

Peserta didik dalam level ini juga akan dibina sehingga peserta didik dapat menerima nilai-nilai yang sebelumnya telah diajarkan kepada mereka.

Dan peserta didik juga harus mau menyatukan diri mereka dengan nilai tersebut, atau bisa dikatakan mengidentifikasi diri dengan nilai.

2. Level Tanggapan (Responding)

Level Tanggapan (Responding)

Terdapat partisipasi secara aktif pada level tanggapan ini. Seseorang memiliki kemampuan untuk menanggapi dan mengikutsertakan dirinya agar dapat berperan aktif dalam suatu peristiwa tertentu.

Dan seseorang tersebut akan membuat reaksi dengan salah satu cara. Level tanggapan ini lebih tinggi dari pada level penerimaan.

3. Level Penghargaan (Valuing)

Level Penghargaan (Valuing)

Pada level ini, kegiatan atau obyek yang dilakukan akan di nilai dan di berikan sebuah penghargaan.

Dengan mengkaitkannya dengan kegiatan belajar mengajar, peserta didik tidak mau jika pendidik hanya memberikan nilai yang diajarkan oleh pendidik saja.

Akan tetapi peserta didik juga mampu dalam menilai konsep terkait fenomena baik itu secara buruk atau yang baik.

Apabila sesuatu yang telah diajarkan tersebut sudah dapat diberi nilai, dan menyatakan bahwa itu adalah baik, maka hal ini bisa dikatakan peserta didik sudah menjalani proses penilaian.

4. Level Pengorganisasian (Organization)

Level Pengorganisasian (Organization)

Level ini bertugas untuk mengorganisasikan dan mengatur. Dapat diartikan juga sebagai menemukan perbedaan dalam nilai sehingga terciptanya suatu nilai yang baru.

Nilai baru ini diharapkan universal dan dapat membawa kepada perbaikan umum.

Pada level pengorganisasian ini salah satu proses mengembangkan nilai dalam satu sistem organisasi.

Kegiatan tersebut meliputi hubungan satu nilai dengan nilai yang lain, pemantapan dan pengutamaan nilai yang telah dimiliki.

3. Level Karakterisasi Berlandaskan Nilai (Characterization by a Value or Value Complex)

Level Karakterisasi Berlandaskan Nilai

Pada level ini lebih berpusat pada titik karakter dan daya hidup seseorang. Level ini memiliki tujuan yang masih berkaitan dengan keteraturan pribadi, sosial, serta emosi pada jiwa.

Hal tersebut dapat diartikan sebagai keterpaduan dari semua nilai yang sudah dimiliki oleh seseorang. Hal ini juga dapat mempengaruhi tingkah laku dan pola kepribadiannya.

Apabila nilai yang sudah tertanam pada sistem secara konsisten, dan akan mempengaruhi emosinya.

Pada level ini, sistem nilai yang dimiliki oleh peserta didik dapat mengontrol tingkah lakunya dalam waktu yang relatif lama.

Sehingga hal ini dapat membentuk karakteristik mengenai pola hidup tingkah lakunya menjadi lebih konsisten lagi dan menetap, sehingga lebih mudah untuk diperkirakan.

Kata Kerja Operasional Afektif (Sikap)

MenerimaMenanggapiMenilaiMengelolaMenghayati
Memilih Mengikuti Memberi Menganut Mematuhi MeminatiMenjawab Membantu Mengajukan Mengompromi Menyenangi Menyambut Mendukung Menyetujui Menampilkan Melaporkan Memilih Mengatakan MemilahMengasumsikan Meyakini Melengkapi Meyakinkan Memperjelas Memprakarsai Mengimani Mengundang Menggabungkan Memperjelas Mengusulkan Menekankan MenyumbangMenganut Mengubah Menata Mengombinasi Mempertahankan Membangun Membentuk Mendapat Memadukan Mengelola Merembuk  Mempengaruhi Mendengarkan Melayani Menunjukkan Membuktikan

Psikomotorik (Revisi)

NoPsikomotorik (Revisi)
1Level Persepsi (Perception)
2Level Kesiapan (Set)
3Level Respon Terpimpin (Guided Response)
4Level Mekanisme (Mechanism)
5Level Respon Jelas Kompleks (Complex Overt Response)
6Level Penyesuaian (Adaptation)
7Level Penciptaan (Origination)

Tahap psikomotor adalah kemampuan manusia dalam menghasilkan fungsi motorik, seperti keterampilan dalam melakukan sesuatu.

Keterampilan manusia ini mencakup keterampilan motorik, keterampilan sosial dan keterampilan intelektual.

Uraian pada tahap ini tidak dibuat oleh Bloom, akan tetapi dibuat oleh ahli lain. Namun masih berlandaskan pada teori yang dikemukakan oleh Bloom.

Simpson mengembangkan Psikomotorik sebagai berikut :

1. Level Persepsi (Perception)

Level Persepsi (Perception)

Pada level ini ialah menggunakan alat indera sebagai pegangan yang dibutuhkan untuk membantu gerakan.

Level presepsi ini meliputi kemampuan dalam pengadaan diskriminasi antara dua atau lebih perangsang, dan didasarkan pada pembedaan antara ciri fisik yang terdapat dalam masing-masing rangsangan.

Dengan adanya kemampuan ini, maka disebutkan dalam sebuah reaksi yang menunjukkan tentang kesadaran akan tumbuhnya rangsangan serta perbedaan terkait semua  rangsangan.

2. Level Kesiapan (Set)

Level Kesiapan (Set)

Pada level ini diperlukan adanya kesiapan mental, kesiapan fisik, dan kesiapan emosional dalam melakukan sebuah gerakan.

Kesiapan ini meliputi kemampuan dalam menempatkan dirinya pada sebuah keadaan dan mengawali suatu gerakan atau serangkaian gerakan.

Kemampuan ini dibuktikan dalam bentuk kesiapan rohani maupun kesiapan jasmani.

4. Level Respon Terpimpin (Guided Response)

Level Respon Terpimpin (Guided Response)

Ketika mulai mempelajari keterampilan yang lebih komplek, di dalam nya terdapat gerakan coba-coba dan imitasi.

5. Level Mekanisme (Mechanism)

Level Mekanisme (Mechanism)

Dalam level ini akan mulai melatih kebiasaan-kebiasaan yang sebelumnya sudah dipahami sehingga dapat tampil dengan cakap dan yakin.

Level ini meliputi kemampuan dalam melaksanakan sebuah rangkaian gerakan secara lancar. Sebab, sebelumnya telah dilatih tanpa mengikuti contoh yang sudah diberikan.

6. Level Respon Jelas Kompleks (Complex Overt Response)

Level Respon Jelas Kompleks (Complex Overt Response)

Pada level respon jelas kompleks, pola-pola gerakan yang kompleks terdapat pada motoris yang terampil.

Gerakan kompleks dapat meliputi kemampuan dalam melakukan sebuah keterampilan, yang mencakup dari berbagai komponen, secara tepat, efesien dan lancar.

Kemampuan pada level ini dapat dibuktikan pada suatu kegiatan secara urut dan digabungkan pada beberapa sub-keterampilan yang nantinya akan menjadi gerak gerik yang teratur secara keseluruhan.

7. Level Penyesuaian (Adaptation)

Level Penyesuaian (Adaptation)

Perkembangan sebuah keterampilan dapat menyesuaikan dalam berbagai situasi. Penyesuaian ini meliputi kemampuan dalam pengadaan perubahan serta penyesuaian pola gerak gerik dengan keadaan sekitar.

 Dan ada juga penunjukan taraf keterampilan yang sudah mencapai tingkat kemahiran.

8. Level Penciptaan (Origination)

Level Penciptaan (Origination)

Pada level ini akan ada pembuatan pola gerakan baru yang nantinya disesuaikan dengan sebuah kondisi ataupun masalah tertentu.

Level Origination atau keterampilan ialah meliputi kemampuan dalam penciptaan berbagai pola-pola gerakan yang baru, dan semuannya murni berdasarkan inisiatifnya sendiri.

Kata Kerja Operasional Psikomotorik (Keterampilan)

MenirukanMemanipulasiPengalamiahanArtikulasi
Menggabungkan Menyesuaikan Mengatur Melamar Mengaktifkan Menimbang Mengubah Memperkecil Membersihkan MemposisikanMerancang Memilah Memperbaiki Membuat Mencampur Memanipulasi Mengoreksi Mengisi Menempatkan  Memutar Mengirim Menarik Mendorong Mengemas Membungkus Menggantikan Memindahkan MenarikMembentuk Mempertajam Mengalihkan Menyetir Memulai Menempel Menimbang Mensketsa Menyetir Menjeniskan

Dengan menerapkan model taksonomi bloom, pendidik harus dapat menyesuaikan dengan kebutuhan peserta didik dalam kelas.

Berikut kemungkinan yang dapat digunakan pendidik dalam menyesuaikan suasana kelas :

  1. Peserta didik menjalankan kegiatan yang berkaitan dengan mengingat serta memahami, lalu sebagian atau beberapa peserta didik akan akan melaksanakan kegiatan yang lebih tinggi lagi (higher order thinking skills).
  2. Sebagian dari peserta didik akan mulai berpikir pada tahap dasar (basic thinking skills), kemudian sebagian peserta didik yang lain yang mampu berpikir dengan cepat melakukan pada tahap yang lebih tinggi.
  3. Sebagian peserta didik melakukan tahapan dasar, lalu mereka akan menentukan kegiatan pada tahapan yang lebih tinggi lagi.
  4. Sebagian kegiatan dapat disebut wajib dilaksanakan (essensial), dan yang lain dikelompokkan sebagai sebuah pilihan (optional).
  5. Pendidik melaksanakan kegiatan pembelajaran yang dimulai dari pembawaan masalah yang bertahap atau berjenjang, lalu peserta didik didorong agar berpikir secara aktif terkait tingkatnya.

Proses/kegiatan dalam penerapan model taksonomi bloom ini pastinya harus dianalisis menurut kebutuhan peserta didik dan karakteristik peserta didik yang sedang diajar dalam kelas.

Cek juga artikel Metodologi Penelitian

Hasil-hasil Belajar

NoHasil-hasil Belajar
1Keterampilan Intelektual
2Strategi-strategi kognitif
3Informasi Verbal
4Sikap-sikap
5Keterampilan-keterampilan motorik.

Hasil belajar ini mencakup penampilan yang bisa dikatakan sebagai kemampuan-kemampuan  (capabilities).

Hasil belajar kognitif peserta didik antara lain sebagai berikut :

1. Keterampilan Intelektual

Keterampilan Intelektual

Yang terdapat dalam keterampilan intelektual diantaranya :

#1. Diskriminasi

Diskriminasi ialah konsep kemampuan peserta didik untuk menimbulkan tanggapan-tanggapan yang berbeda terhadap respon yang berbeda pula dalam satu dimensi fisik ataupun lebih.

#2. Konsep-Konsep Konkret

Konsep konkret ini memperlihatkan sifat atau atribut dari sebuah objek. Dalam konsep konkret ini dipercaya jika kemampuan seseorang adalah sebuah konsep yang konkret. Sedangkan belajar konkret ialah salah satu syarat dari belajar abstrak.

#3. Konsep Terdefinisi

Konsep terdefinisi ini menekankan kemampuan dalam mendemonstrasikan arti dari suatu kelas tertentu tentang sebuah kejadian, objek-objek ataupun sebuah hubungan-hubungan.

#4. Aturan-aturan

Aturan ini memperlihatkan bagaimana suatu penampilan itu memilki keteraturan pada berbagai kondisi khusus.

Pada hal ini terdapat konsep terdefinisi yang disebut sebagai bentuk khusus dari suatu aturan yang memiliki tujuan untuk mengelompokkan berbagai objek, serta suatu kejadian-kejadian.

#5. Aturan-aturan Tingkat Tinggi

Aturan tingkat tinggi ini sebuah gabungan dari beberapa Aturan-aturan yang sederhana, yang nantinya akan digunakan sebagai pemecahan suatu masalah.

Aturan-aturan tingkat tinggi atau aturan yang kompleks ini difungsikan sebagai pemecahan masalah yang secara praktis dan juga sekelompok masalah.

2. Strategi-Strategi Kognitif

Strategi-strategi kognitif

Strategi-strategi kognitif ialah sebuah proses untuk mengontrol yang digunakan oleh peserta didik atau orang yang sedang belajar untuk memilih, serta mengubah cara pemberian perhatian.

Selain itu juga digunakan sebagai belajar mengingat dan berpikir.

#1. Strategi-Strategi Menghafal

Strategi menghafal ini ialah peserta didik akan melakukan sebuah latian mengenai suatu materi yang sedang dipelajarinya.

Strategi menghafal ini dipelajari dalam bentuk pengulangan materi secara terus menerus.

#2. Strategi-Strategi Elaborasi.

Strategi-strategi elaborasi ialah peserta didik yang nantinya akan mengasosiasikan sebuah hal yang akan dipelajari menggunakan bahan dan sarana lain yang tersedia.

Strategi elaborasi ini seperti membuat catatan secara matriks, penyeleksian ide utama dari suatu teks, penggunaan analogi, serta penggunaan metode PQ4R (preview, question, read, reflect, recite, dan review)

#3. Strategi Pengaturan

Strategi pengaturan ialah strategi yang mempelajari tentang suatu materi yang sebelumnya telah menyusun kerangka secara teratur terkait materi tersebut.

Strategi ini berguna untuk memudahkan peserta didik dalam memahami suatu materi dengan lebih efektif.

#4. Strategi-Strategi Metakognitif

Strategi-strategi metakognitif ini mencakup kemampuan peserta didik dalam hal penentuan sebuah tujuan belajar.

Juga dapat memperkirakan mengenai keberhasilan dalam mencapai suatu tujuan tersebut. Selain itu juga peserta didik memilih alternatif dalam mencapai tujuan pembelajaran.

#5. Strategi-Strategi Afektif

Strategi-strategi afektif ialah strategi yang digunakan oleh peserta didik sebagai pusat dan mempertahankan sebuah perhatian.

Strategi ini juga berguna sebagau pengendalian amarah dan pengunaan waktu secara efektif.

3. Informasi Verbal

Informasi Verbal

Informasi verbal merupakan suatu informasi yang di dapatkan dari hasil pembelajaran pada lingkungan sekolah, pengucapan kata-kata, radio, televisi, membaca, atau media informasi yang lain.

4. Sikap-Sikap

Sikap-sikap

Suatu nilai dapat dikatakan sebagai sikap-sikap yang umum. Sikap-sikap ini akan diperlihatkan pada sebuah perilaku-perilaku sosial .

Sikap-sikap ini misalnya kata-kata kejujuran, perilaku dermawan, ataupun istilah lainnya yang lebih ke arah moralitas.

5. Keterampilan-Keterampilan Motorik

Keterampilan-Keterampilan Motorik

Keterampilan metorik tidak hanya sebatas kegiatan fisik, melainkan juga aktivitas motorik yang dikaitkan dengan aktivitas-aktivitas intelektual seperti halnya menulis dan membaca.

Kegiatan pembelajaran di dalam kelas, akan dapat dilaksanakan dengan melalui Fase-fase yang bertujuan agar lebih mempermudah peserta didik dan pendidik dalam interaksi pada suatu kegiatan belajar.

Fase-fase yang harus dilalui antara lain sebagai berikut :

#1. Fase Motivasi (motivatim phase)

Peserta didik perlu diberi sebuah motivasi belajar yang diharapkan dapat meningkatkan semangat dan minat peserta didik dalam mencari ilmu dalam proses belajar.

Seperti halnya peserta didik berharap bahwa sebuah informasi akan dapat memenuhi keingintahuan mereka mengenai sebuah pokok bahasan.

Kegiatan ini akan bermanfaat bagi peserta didik dan dapat membantu mereka dalam mendapatkan angka atau nilai yang baik.

#2. Fase Pengenalan (apperehending phase)

Pada fase ini peserta didik harus memfokuskan dirinya pada bagian-bagian yang esensial dari sebuah kejadian intruksional.

Pendidik akan memusatkan perhatiannya terhadap informasi-informasi yang dirasa cukup penting.

Terhadap bahan-bahan yang tertulis dengan memberi garis bawah pada kata yang dianggap penting, atau sebuah kalimat tertentu. Dan bisa juga pemberian garis besar pada setiap babnya.

#3. Fase Perolehan (acquisition phase)

Apabila peserta didik telah memahami dan memperhatikan sebuah informasi yang relavan, maka peserta didik tersebut pasti sudah siap dalam menerima mata pelajaran.

Informasi yang telah disajikan oleh pendidik ini sudah dijelaskan juga pada bab-bab sebelumnya atau terdahulu, bahwa informasi ini tidak secara langsung disimpan dalam ingatan.

Dengan memberikan kebebasan peserta didik untuk memanipulasi dan melihat benda-benda, dan penunjukkan sebuah hubungan antara pengetahuan yang sebelumnya dengan pengetahuan yang baru.

#4. Fase Retensi (retentim phase)

Pada fase retensi ini, informasi yang baru saja didapatkan harus terlebih dahulu dipindahkan dari ingatan jangka pendek ke arah ingatan jangka panjang.

Hal ini dapat dilakukan dengan elaborasi, pengulangan kembali (rehearsal), dan juga praktik (practice).

Kegiatan ini akan membuat informasi dapat melekat lama dalam ingatan dan memudahkan proses belajar.

#5. Fase Pemanggilan (recall)

Bagian penting dari kegiatan belajar adalah belajar untuk mendapatkan apa yang telah kita pelajari tersebut, dalam rangka untuk memanggil suatu informasi yang sebelumnya telah kita pelajari.

Keterkaitan informasi yang dibantu oleh materi yang telah terstruktur dengan baik dengan mengumpulkannya menjadi sebuah konsep atau kategori-kategori. Kegiatan ini lebih mudah dipanggil daripada materi yang disampaikan secara tidak terstruktur.

Pemanggilan ini juga dapat dibantu dengan berfokus pada keterkaitan antara Konsep-konsep, khususnya dengan pengetahuan baru dan pengetahuan sebelumnya.

#6. Fase Generalisasi

Transfer informasi atau yang biasa disebut sebagai generalisasi pada situasi baru ini ialah fase yang kritis dalam kegiatan belajar.

Generalisasi (transfer informasi) ini dapat dibantu dengan mengarahkan peserta didik untuk menggunakan keterampilan dalam berhitung.

Dimana keterampilan berhitung ini digunakan sebagai pemecahan masalah nyata.

#7. Fase umpan balik.

Setiap peserta didik harus mendapatkan umpan balik terkait penampilan mereka dalam kegiatan belajar mengajar.

Memperlihatkan apakah peserta didik tersebut sudah paham dan mengerti mengenai apa yang sudah diajarkan atau yang sudah dipelajari nya.

Fase umpan balik ini dapat dijadikan sebagai masukan pada peserta didik yang berhasil dalam penampilan belajar nya.

Kekurangan dan Kelebihan Model Pembelajaran Taksonomi Bloom

Kekurangan dan Kelebihan Model Pembelajaran Taksonomi Bloom

1. Kekurangan

  • Masih banyak yang belum memahami mengenai taksonomi pembelajaran dan pengimplikasiannya yang tepat dalam pendidikan.
  • Banyak terdapat klasifikasi pengorganisasian.
  • Dalam penerapan model taksonomi bloom masih terdapat banyak kekurangan.
  • Media pendukung taksonomi bloom masih belum memadai sepenuhnya.

2. Kelebihan

  • Dapat digunakan sebagai model pendukung dalam kegiatan belajar agar lebih efisien.
  • Dapat menimbulkan kemampuan kognitif peserta didik.
  • Dapat menimbulkan kemampuan afektif peserta didik.
  • Dapat menimbulkan kemampuan psikomotor peserta didik.
  • Landasan dalam taksonomi bloom sangat bermanfaat dalam enskripsi teknik pembelajaran.

Kesimpulan

Taksonomi pendidikan marak dikenal dengan istilah taksonomi bloom.

istilah ini dikembangkan oleh Benjamin, S. Bloom, yaitu seorang psikolog dalam bidang pendidikan yang sedang melaksanakan kegiatan penelitian dan pengembangan terkait kemampuan dalam berpikir.

Sejarah mengenai taksonomi bloom ini berawal dari Konferensi Asosiasi Psikolog Amerika pada tahun 1950an.

Pendidikan lebih tinggi tingkatannya daripada suatu pengajaran. Sebab pengajaran hanya sebatas transfer ilmu saja, sedangkan pendidikan ialah transformasi nilai dan dapat membentuk kepribadian peserta didik.

Proses pengimplikasian model taksonomi bloom sudah dianalisis menurut karakteristik dan kebutuhan para peserta didiknya.

Dalam sebuah proses pengetahuan, kemampuan peserta didik pada awalnya sudah tercantum dalam kriteria ketuntasan maksimal.

Jadi dapat disimpulkan bahwa taksonomi bloom ialah struktur yang melakukan identifikasi skill, yang diawali dari tingkat yang rendah menuju tingkat yang lebih tinggi.

Tujuan pendidikan ini dibagi menjadi beberapa tujuan, yang diantaranya ada kognitif, afektif serta psikomotor.

Yang Banyak Ditanyakan

Apa itu Taksonomi Bloom?

Taksonomi Bloom adalah taksonomi dalam dunia pendidikan yang digunakan untuk mengklasifikasikan materi pembelajaran.

Apa tujuan dari Taksonomi Bloom?

Terdapat tiga tujuan Taksonomi Bloom dalam ranah kecerdasan intelektual yaitu kognitif, psikomotorik dan afektif.

Penutup

Demikian artikel terkait model pembelajaran taksonomi bloom. Untuk bisa menempuh suatu pendidikan yang berhasil dan sukses, maka diperlukan suatu teknik belajar dan kegiatan belajar yang menarik dan baik. Sehingga nantinya peserta didik akan timbul jiwa semangat belajar yang lebih tinggi, agar menjadi generasi bangsa yang berkualitas

0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like
Minat Belajar
Read More

Minat Belajar

Dalam diri manusia pasti melakukan sebuah interaksi dengan lingkungan yang ada di sekitarnya. Apabila sesuatu tersebut dianggap menarik…
Metodologi Penelitian
Read More

Metodologi Penelitian

Metodologi penelitian bermanfaat untuk pemetaan pekerjaan penelitian secara menyeluruh untuk mencapai hasil dan tujuan yang diharapkan. Baca lebih…
Level Kognitif
Read More

Level Kognitif

Level kognitif adalah sebuah cara untuk menjabarkan kemampuan siswa dalam beberapa level. Simak lebih lanjut untuk informasi lebih…