Model Pembelajaran Role Playing (Bermain Peran)

Model Pembelajaran Role Playing
Suasana belajar akan lebih menyenangkan dan menarik apabila dalam proses pembelajarannya pendidik menerapkan metode yang tepat dan sesuai dengan peserta didik, salah satunya adalah metode dari model pembelajaran Role Playing. Simak infonya lebih lanjut

Seperti halnya penerapan model pembelajaran role playing (bermain peran) yang secara umum dapat meningkatkan minat dan motivasi belajar para peserta didik.

Dalam model pembelajaran role playing juga melatih peserta didik dalam mengekspresikan perasaan yang tersembunyi dibalik sebuah keinginan.

Untuk lebih jelasnya mengenai model pembelajaran role playing (bermain peran), simak artikel dibawah ini:

 Pengertian Model Pembelajaran Role Playing

Pengertian Model Pembelajaran Role Playing
Model pembelajaran role playing merupakan model pembelajaran yang menitikberatkan pada aspek kognitif dengan melakukan kegiatan diskusi kelompok dalam bentuk pemeranan ke arah situasi nyata.

Yang nantinya akan membantu peserta didik dalam memahami, berpikir dan bertindak sebagaimana yang orang lain lakukan.

Model pembelajaran role playing merupakan model yang dipelopori oleh George Shaftel. George Shaftel membuat model pembelajaran ini dengan tujuan agar membantu peserta didik dalam menemukan jati diri dalam dunia sosial.

Model pembelajaran ini akan sangat bermanfaat bagi peserta didik agar mereka memiliki variasi dalam kegiatan pembelajaran sehingga bisa mengatasi rasa bosan dalam kegiatan belajar dikelas.

 Menurut Para Ahli

Untuk lebih jelasnya mengenai pengertian model pembelajaran role playing (bermain peran),  berikut beberapa pendapat menurut ahli :

1. Jill Hadfield (Basri Syamsu, 2000)

Model pembelajaran role playing merupakan kegiatan belajar dimana didalamnya mencakup beberapa aturan, tujuan, serta melibatkan tidak bahagia.

Dalam model pembelajaran role playing ini peserta didik diarahkan pada keadaan dimana seakan-akan sedang berada diluar kelas atau ruangan dan berperan menjadi orang lain.

2. Tangdilintin

Model pembelajaran role playing adalah salah satu sosiodrama, yang memiliki arti mempraktikan suatu impak dalam bentuk ekspresi dengan perasaan kepada orang lain.

 3. Wahab (2009)

Model pembelajaran role playing merupakan kegiatan bermain peran sesuai dengan peran yang sudah ditentukan sebelumnya dalam pencapaian tujuan-tujuan tertentu.

Model pembelajaran ini dapat menciptakan kondisi belajar yang didasarkan pada pengalaman serta menekankan waktu dan tempat sebagai bagian dalam kegiatan belajar.

4. Fatmawati

Model pembelajaran role playing merupakan metode belajar yang menekankan kepada peserta didik agar memperlihatkan karakter atau peran yang mengacu pada skenario yang telah dibuat sebelumnya.

5. Yamin (2007)

Model pembelajaran role playing (bermain peran) merupakan model pembelajaran yang memberikan interaksi antara dua peserta didik atau lebih dalam membahas suatu topik tertentu.

Peserta didik akan berinteraksi dengan pemeran lain secara terbuka. Model pembelajaran ini dapat diterapkan dalam mata pelajaran yang baru.

6. Sandra de young

Model pembelajaran role playing merupakan kegiatan belajar yang diwujudkan dalam sebuah bentuk drama atau sandiwara.

Pada tahap ini, peserta didik diharuskan untuk memerankan sebuah drama baik itu secara terencana ataupun secara spontan guna untuk memperlihatkan sebuah peran.

Pertunjukan tersebut dilakukan berkaitan dengan kehidupan nyata manusia dalam segala permasalahannya.

7. Santoso (2011)

Model pembelajaran role playing (bermain peran) adalah mengekspresikan tingkah laku, gerak gerik, dan ungkapkan dalam hubungan sosial antar manusia.

Dengan model ini, peserta didik akan berperan dalam masalah atau psikologis yang sedang dibahas.

Menurut beberapa pengertian dari para ahli diatas mengenai model pembelajaran role playing dapat diambil kesimpulan bahwa model pembelajaran role playing adalah belajar dengan menggunakan permainan peran.

Dalam hal ini, peserta didik dituntut untuk sifat, karakter atau peran khusus dengan cara berinteraksi dengan lingkungan sosial disekitarnya.

Titik fokus dalam model pembelajaran role playing adalah interaksi dan pengamatan ke dalam kondisi permasalahan yang nyata.

Melalui model pembelajaran bermain peran ini, diharapkan peserta didik dapat :

  1. Mengekspresikan perasaannya.
  2. Memperoleh pengetahuan dan wawasan tentang sikap, nilai dan presepsinya.
  3. Dapat mengembangkan keterampilan dalam pemecahan permasalahan yang sedang dibahas.
  4. Dapat mengeksplorasi inti dari suatu masalah yang sedang diperankan melalui berbagai cara dan teknik.

Selain hal yang disebutkan diatas, pemilihan topik masalah (skenario)  harus juga diperhatikan agar dapat memadai bagi para peserta didik.

Pemilihan topik mencakup usia peserta didik, sosial budaya, latar belakang, kerumitan masalah dan kepekaan topik yang dijadikan acuan masalah dan pengalaman peserta didik dalam kegiatan bermain peran.

Dalam model pembelajaran role playing peserta didik dijadikan sebagai subjek dalam melaksanakan kegiatan belajar. Maka peserta didik akan aktif melakukan praktik-praktik komunikasi dengan keadaan tertentu.

Karena kegiatan pembelajaran yang efektif berpusat pada diri setiap peserta didik.

Dalam setiap penerapan kegiatan pembelajaran, pastinya mempunyai langkah-langkah yang harus diterapkan.  Sama halnya dengan model pembelajaran role playing.

Model Pembelajaran Lainnya:

Langkah-Langkah Metode Pembelajaran dengan Teknik Role Playing

NoLangkah-Langkah Metode Pembelajaran Teknik Role Playing
1Membuat grup
2Kompetensi yang harus diraih
3Memperagakan sebuah peran
4Mengamati kinerja siswa
5Membuat dan mempresentasikan kesimpulan
6Pengajar akan membuat kesimpulan dari aktivitas

Berikut langkah-langkah yang terdapat dalam model pembelajaran role playing :

1. Membuat grup

Membuat grup

Pendidik memerintahkan kepada peserta didiknya untuk membuat kelompok atau grup yang nantinya akan digunakan dalam implementasi bermain peran.

2. Kompetensi yang Harus Diraih

 Kompetensi yang harus diraih

Pendidik akan memberikan informasi terkait kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik dalam kegiatan belajar dengan menggunakan model pembelajaran role playing ini.

3. Memperagakan Sebuah Peran

Memperagakan sebuah peran

Pada tahap ini, pendidik mulai menunjuk salah satu peserta didik untuk memperagakan sebuah peran yang berkaitan dengan skenario yang telah dibuat sebelumnya.

4. Mengamati Kinerja Siswa

Mengamati kinerja siswa

Pendidik menyuruh semua peserta didik yang berada dalam kelompok belajar untuk mengamati kinerja peserta didik yang sedang bertugas memainkan peran.

5. Membuat dan Mempresentasikan Kesimpulan

Membuat dan mempresentasikan kesimpulan

Selanjutnya, peserta didik dalam sebuah kelompok belajar diminta untuk membuat serta mempresentasikan kesimpulan terkait dengan Sekenario dan peran yang telah dimainkan oleh salah satu siswa.

6. Pengajar Akan Membuat Kesimpulan dari Aktivitas

 Pengajar akan membuat kesimpulan dari aktivitas

Pada tahap akhir ini, pendidik akan menyampaikan ulasan dan kesimpulan dari kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan.

Pendidik akan memberikan kesimpulan yang mudah dimengerti oleh para peserta didiknya.

Berdasarkan Langkah-langkah yang telah dipaparkan diatas, perlu diketahui bahwa skenario adalah patokan dalam permainan peran. Maka dari itu, pendidik harus membuat skenario dengan baik dan bagus.

Aspek-aspek Bermain Peran (Role Playing)

Aspek-aspek Bermain Peran

Zaini (2008) menyebutkan tiga aspek yang terdapat dalam model pembelajaran role playing, antara lain :

1. Mengambil Peran (Role Playing)

Menitikberatkan pada ekspetasi sosial para pemain peran. Contohnya seperti pada hubungan keluarga atau berdasarkan tugas.

2. Membuat Peran (Role Marking)

Kemampuan yang dimiliki oleh pemain peran untuk berubah secara dramatis dari satu peran ke peran lain dan memodifikasi serta menciptakan peran jika sewaktu-waktu akan dibutuhkan.

3. Tawar-menawar Peran (Role Negotitation)

Yaitu kegiatan dimana peran-peran akan dinegosiasikan dengan para pemain peran lainnya dalam parameter dan hambatan interaksi sosial.

Tujuan dari Metode Pembelajaran dengan Teknik Role Playing

Tujuan dari Metode Pembelajaran dengan Teknik Role Playing

Model pembelajaran role playing (bermain peran) yang diberikan kepada peserta didik agar dapat mengungkapkan gerak gerik wajah  dan mendramatisasikan tingkah laku dalam hubungan sosial atau manusia.

Santosa (2010 : 18) menyebutkan tujuan pembelajaran model role playing ialah sebagai berikut :

  1. Dapat memahami perasaan orang lain
  2. Dapat memposisikan diri dari kondisi dan keadaan orang lain
  3. Dapat menerima, mengerti, dan memahami setiap perbedaan pendapat

Dengan adanya tujuan tersebut, maka peran peserta didik akan lebih menghayati terkait peranan apa yang sedang dipertunjukkan.

Dan peserta didik mampu memposisikan dirinya dalam situasi orang lain yang sebelumnya telah dikehendaki oleh pendidik.

Peserta didik juga akan belajar sifat dan watak dari orang lain, bergaul dan berinteraksi dengan orang lain.

Maka dalam situasi tersebut diharapkan peserta didik mampu untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.

Tahapan Model Pembelajaran Role Playing

NoTahapan Model Pembelajaran Role Playing
1Menghangatkan suasana kelas
2Memilih peran
3Menyusun tahap-tahap peran
4Menyiapkan pengamat
5Pemeranan
6Diskusi dan evaluasi
7Pemeranan ulang
8Diskusi dan evaluasi tahap dua
9Mengambil kesimpulan dan berbagi pengalaman

Shaftel dan Shaftel, E. Mulyasa (2003) menyebut dan menjelaskan terkait tahapan yang ada ketika menerapkan model pembelajaran role playing, diantaranya :

1. Menghangatkan Suasana Kelas

Menghangatkan suasana kelas

Menciptakan rasa hangat dalam suasana kelompok akan mengarahkan peserta didik terhadap masalah pembelajaran yang perlu dipelajari dan dibahas.

Kegiatan ini dapat dilaksanakan dengan cara mengidentifikasi suatu masalah, menjelaskan suatu permasalahan, mengeksplorasi isu-isu serta dan menjelaskan sebuah peran yang nantinya akan ditampilkan.

Dalam tahap ini akan lebih diarahkan untuk menyemangati dan memotivasi peserta didik agar memiliki ketertarikan terhadap masalah.

Kegiatan ini sangat penting dalam bermain peran karena akan menentukan keberhasilan dalam proses belajar.

Role playing (bermain peran) akan berhasil apabila peserta didik berminat dengan masalah yang diajukan oleh guru.

2. Memilih Peran

Memilih peran

Dalam tahap ini, pendidik bersama peserta didik mendeskripsikan berbagai macam karakter dan watak, apa yang peserta didik sukai, apa yang harus dikerjakan dan bagaimana mereka merasakan.

Setelah itu, para peserta didik akan diberikan kesempatan yang dilakukan secara sukarela untuk menjadi seorang pemeran.

3. Menyusun Tahap-Tahap Peran

Menyusun tahap-tahap peran

Pada kegiatan ini, para pemeran akan menyusun garis besar adegan yang nantinya akan dimainkan.

Hal ini tidak diharuskan ada dialog khusus sebab peserta didik dituntut agar berbicara dan bertindak secara spontan.

4. Menyiapkan Pengamat

Menyiapkan pengamat

Alangkah baiknya, pengamat ini mempersiapkan secara matang dan melibatkan diri dalam cerita yang nantinya akan dimainkan.

Hal ini dimaksudkan agar semua peserta didik turut mendalami dan mengalami peran yang sedang dimainkan serta aktif dalam mendiskusikannya.

5. Pemeranan

Pemeranan

Dalam tahap ini masing-masing  peserta didik dapat mulai berperan secara spontan. Apabila peserta didik telah merasa cukup, pemeran boleh berhenti.

Tidak jarang dari peserta didik apabila mereka keasyikan dalam bermain peran, maka tanpa sadar permainan simulasi ini akan memakan waktu yang cukup lama.

Dalam hal ini guru bertugas kapan bermain peran (role playing) itu dihentikan.

6. Diskusi dan Evaluasi

Diskusi dan evaluasi

Diskusi akan berjalan dengan lancar apabila terdapat pemeran dan pengamat yang telah teelibat dalam kegiatan bermain peran, baik secara intelektual maupun baik secara emosional.

Dengan mengajukan beberapa pertanyaan, peserta didik akan terpancing untuk melakukan suatu kegiatan berdiskusi.

7. Pemeranan Ulang

Pemeranan ulang

Kegiatan ini dilaksanakan berdasarkan hasil diskusi dan evaluasi yang terkait dengan kegiatan alternatif pemeranan. Bisa jadi peserta didik dituntut untuk berubah peran dan watak.

Perubahan yang terjadi ini memungkinkan terciptanya sebuah perubahan baru dalam upaya penyelesaian masalah.

Tetapi setiap terjadi perubahan peran, pastinya akan mempengaruhi peran peserta didik  lainnya.

8. Diskusi dan Evaluasi Tahap Dua

Diskusi dan evaluasi tahap dua

Pada kegiatan  tahap dua ini, diskusi kurang lebih dilakukan seperti tahap sebelumnya. Hanya saja hal ini dimaksudkan untuk menganalisis hasil dari kegiatan pemeranan ulang.

Selain itu, dalam tahap ini penyelesaian atau pemecahan masalah mungkin sudah jelas.

9. Mengambil Kesimpulan dan Berbagi Pengalaman

Mengambil kesimpulan dan berbagi pengalaman

Pada kegiatan ini, peserta didik akan saling berbagi pengalaman hidupnya dalam berhadapan dengan orang tua, teman, guru, atau orang lain.

Pengalaman peserta didik nantinya akan muncul secara spontan.

Kelebihan dan Kekurangan

Kelebihan dan Kekurangan

Dalam berbagai penerapan model pembelajaran pasti memiliki kelebihan dan kekurangan.

Adapun kelebihan dan kekurangan dalam model pembelajaran role playing sebagai berikut :

1. Kelebihan

Kelebihan model pembelajaran role playing yaitu melibatkan semua peserta didik yang dituntut untuk aktif berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran.

Hal ini tentunya memberikan peluang kepada peserta didik dalam hal bekerja sama dan berdiskusi.

Selain itu ada beberapa kelebihan juga yang terdapat dalam penerapan model pembelajaran role playing, antara lain :

  • Peserta didik akan lebih bebas dalam pengambilan suatu keputusan serta juga dapat berekspresi secara penuh dan utuh.
  • Role playing atau bermain peran ini mudah diterapkan dan dapat digunakan pada waktu dan situasi yang berbeda.
  • Pendidik dapat mengamati dan mengevaluasi pengalaman peserta didik melalui kegiatan pada waktu bermain peran.
  • Akan menjadi pengalaman belajar yang menyenangkan dan tentunya akan lebih melekat pada ingatan tiap peserta didik.
  • Model pembelajaran role playing ini menarik bagi kebanyakan peserta didik, sehingga suasana kelas menjadi sangat antusias dan dinamis.
  • Memotivasi peserta didik dan menimbulkan semangat optimis pada diri peserta didik. Selain itu dapat menimbulkan rasa kesetiakawanan dan kebersamaan yang tinggi antar sesama.
  • Dapat mendalami suatu peristiwa yang sedang berlangsung dengan mudah. Disamping itu dapat mengambil pelajaran yang terkandung dalam pemahaman peserta didik.
  • Dapat meningkatkan kemampuan dan potensi profesional pada peserta didik.

2. Kekurangan

Pada dasarnya semua model pembelajaran tidak sempurna. Dalam model pembelajaran role playing juga memiliki kekurangan, antara lain:

  • Dalam penerapan model role playing akan memerlukan waktu yang lebih lama. Sehingga bisa jadi akan mempengaruhi kegiatan pembelajaran selanjutnya.
  • Diperlukannya kreativitas yang tinggi baik dari pihak pendidik maupun peserta didik. Dalam hal ini kemungkinan tidak banyak pendidik yang memilikinya.
  • Sebagian peserta didik masih merasa malu jika ditunjuk oleh pendidik agar memerankan suatu adegan tertentu.
  • Apabila dalam penerapan model pembelajaran role playing ini tidak berhasil/gagal, maka tidak tercapainya tujuan belajar.
  • Tidak semua mata pelajaran atau materi dapat menggunakan model pembelajaran role playing ini. Jadi penerapan model ini khusus pada mata pelajaran tertentu.

Kesimpulan

Melalui model pembelajaran bermain peran (role playing) ini, peserta didik dilatih untuk menerapkan prinsip demokrasi.

Ruangan kelas dapat diibaratkan menjadi suatu kehidupan sosial, yang digunakan sebagai tempat para peserta didik belajar mengeluarkan pendapat serta menghargai pendapat orang lain.

Adapun beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam penerapan model pembelajaran role playing ini yaitu latar belakang peserta didik, usia peserta didik, kepekaan topik yang digunakan sebagai masalah.

Selain itu ada juga kerumitan masalah sekaligus pengalaman peserta didik dalam kegiatan bermain peran.

Yang Banyak ditanyakan

Apa itu model pembelajaran Role Playing?

Model pembelajaran role playing adalah suatu metode pembelajaran dengan melakukan permainan peran dalam kegiatan belajarnya

Peran apa saja yang dapat dimainkan dalam model pembelajaran Role Playing?

Banyak peran yang dapat dimainkan dalam metode pembelajaran ini, peran tersebut dapat disesuaikan dengan materi yang hendak disampaikan

Apa kelemahan dalam model pembelajaran Role Playing?

Diperlukannya kreativitas yang tinggi baik dari pihak pendidik maupun peserta didik. Dalam hal ini kemungkinan tidak banyak pendidik yang memilikinya.

Penutup

Sekian artikel yang dapat diulas mengenai model pembelajaran role playing (bermain peran) yang diharapkan dapat membantu para pembaca yang ingin mengetahui tentang model pembelajaran tersebut.

Jangan lupa baca juga artikel mengenai model pembelajaran yang lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Kalau ada sesuatu yang ingin ditanya, silakan tinggalkan komentar atau hubungi melalui Halaman Kontak yang tersedia