Model Pembelajaran Discovery Learning

model pembelajaran discovery learning
Model pembelajaran Discovery learning ini mendorong siswanya untuk memahami materi-materi yang diberikan secara mandiri. Berikut penjelasan lengkapnya

Pembelajaran discovery learning atau biasa disebut model pembelajaran berbasis penemuan ini merupakan kegiatan belajar yang nantinya akan dijelaskan kepada peserta didik secara langsung.

Tetapi peserta didik setiap individu  akan diarahkan agar dapat memahami materi yang disampaikan dengan model pembelajaran tertentu.

Untuk lebih jelasnya mengenai model pembelajaran discovery learning ini, simak penjelasannya berikut.

Pengertian Model Pembelajaran Discovery Learning

Pengertian Model Pembelajaran Discovery Learning
Model pembelajaran discovery learning adalah kegiatan belajar dengan penyampaian materi kepada peserta didik yang nantinya akan dipahami secara mandiri.

Dalam kegiatan ini, dapat melatih peserta didik sebagai seorang ilmuwan.

Pada model pembelajaran discovery learning ini peserta didik tidak selalu bersifat pasif dalam kegiatan belajar, akan tetapi kegiatan menguasai dan memahami yang dilakukan oleh peserta didik disebut pembelajaran aktif.

Dan diharapkan dengan diterapkannya model pembelajaran berbasis penemuan ini akan dapat membuat peserta didik untuk menciptakan dan menumbuhkan ilmu pengetahuan.

Menurut Para Ahli

berikut pengertian model pembelajaran discovery learning tambahan menurut para ahli:

1. Kurniasih, dkk (2014:64)

Model pembelajaran discovery learning merupakan aktivitas belajar dengan penyampaian materi kepada peserta didik secara langsung.

Kemudian peserta didik di intruksikan untuk mengulas dan memahami materi secara independen.

 Lalu mereka harus berhasil dalam penemuan konsep dengan didasarkan pada data-data penelitian.

2. Hosnan (2014:282)

Model pembelajaran discovery learning merupakan kegiatan pengembangan keaktifan belajar peserta didik agar dapat memperoleh pengetahuannya secara mandiri.

Dengan adanya keaktifan peserta didik dalam kegiatan belajar maka akan menimbulkan pemikiran yang kritis bagi para peserta didiknya.

Sehingga ilmu pengetahuan yang dipelajari dan diserap akan lebih bertahan lama dalam ingatan.

3. Ruseffendi (2006:329)

Model pembelajaran discovery learning adalah model belajar yang membimbing dan melatih peserta didik agar memperoleh ilmu pengetahuan mandiri.

4. Mulyasa (dalam Takdir, 2012:32)

Model pembelajaran discovery learning adalah teknik atau strategi pembelajaran yang menitikberatkan pengalaman secara langsung, dan tidak hanya terfokus pada materi yang ada dalam buku pelajaran.

Model Pembelajaran Lainnya:

Jenis dan Bentuk Discovery Learning

Terdapat dua bentuk dalam penerapan model pembelajaran discovery learning, antara lain :

1. Guided Discovery Learning

Guided discovery learning

Guided diacovery learning (pembelajaran penemuan terbimbing) ialah kegiatan belajar yang membutuhkan pengarahan dari pendidik sebagai fasilitator dalam proses belajar.

2. Free Discovery Learning

 Free discovery learning

Free discovery learning (pembelajaran penemuan bebas)  ialah kegiatan yang bebas dilakukan oleh peserta didik agar dapat terlibat aktif secara independen dan tidak membutuhkan pendidik sebagai fasilitatornya.

Selain hal itu, model pembelajaran discovery learning juga dapat dilaksanakan melalui hubungan satu arah dan hubungan dua arah:

  • Hubungan satu arah.

Hubungan satu arah adalah peserta didik yang nantinya akan diberi stimulus agar mereka dapat melaksanakan kegiatan penemuan.

Disini pendidik akan memberi suatu permasalahan kepada peserta didik, kemuadian mereka akan diminta untuk mencari solusi dengan model pembelajaran discovery learning atau penemuan.

  • Hubungan dua arah.

Hubungan dua arah ialah kegiatan berkomunikasi antara pendidik dengan peserta didik, seperti halnya kegiatan menjawab pertanyaan-pertanyaan.

Kemudian pendidik juga berkomunikasi dengan peserta didik secara baik-baik.

Karakteristik dan Tujuan Discovery Learning

Karakteristik dan Tujuan Discovery Learning

Hosnan (2014) memaparkan karakteristik model pembelajaran discovery learning ialah eksplorasi dan menciptakan solusi, dan memadukan ilmu baru maupun lama dengan sebuah pengetahuan.

Adapun tujuannya adalah :

  1. Agar peserta didik dapat lebih mandiri dan inovatif.
  2. Peserta didik diharapkan dapat menerima dan menghargai setiap penemuan pengetahuan yang telah dikerjakannya.
  3. Peserta didik nantinya dapat menumbuhkan pemikiran yang kritis, yang menjadikan mereka akan lebih mudah dalam mencari solusi pada setiap permasalahan.
  4. Diharapkan dapat meningkatkan serta mengembangkan kegiatan berdiskusi atau tanya jawab yang disusun secara terstruktur.
  5. Model pembelajaran discovery learning ini dapat membantu dan melatih peserta didik dalam hal bekerja sama. Peserta didik dapat melakukan kegiatan bertukar pendapat, bertukar data, dan gagasan masing-masing.
  6. Ilmu pengetahuan akan menjadi lebih mudah diterapkan sebagai materi belajar yang baru.

Tahap-Tahap Penerapan Model Pembelajaran Discovery Learning

Tahap-tahap penerapan model pembelajaran discovery learning
NoTahap-tahap penerapan model pembelajaran discovery learning
1Fase Pendahuluan
2Fase berujung-terbuka (open-ended phase)
3Konvergen
4Penutup dan pengimplikasian

berikut adalah langkah-langkah dalam menerapkan model pembelajaran discovery learning:

1. Fase Pendahuluan

Pada fase pendahuluan ini digunakan untuk menarik antusias peserta didik dengan pemberian kerangka kerja tentang kegiatan apa yang harus diikuti.

Dengan kegiatan ini, akan diawali oleh beberapa cara yang meliputi pernyataan-pernyataan sederhana.

2. Fase Berujung-terbuka (open-ended phase)

Pada fase open ended phase ini mempunyai harapan agar peserta didik dapat terlibat aktif dalam kegiatan belajar. Pada tahap open ended phase memiliki beberapa cara, antara lain :

  1. Penampilan contoh kepada peserta didik dan kemudian mengintruksikan kepada peserta didik untuk meneliti lebih dalam serta memahami pola yang telah terdapat dalam contoh.
  2. Pelaksanaan Kegiatan pembelajaran dalam kelas utuh serta pemberian contoh kepada peserta didik dan menyuruh mereka agar dapat mendeskripsikan di depan kelas.
  3. Diawali dengan non exemple, peserta didik akan mulai mendiskripsikannya.

3. Konvergen

Pada tahap konvergen ini, pendidik sebagai pembimbing peserta didik mengarahkan kepada mereka agar sepakat terkait dengan tujuan belajar yang ditetapkan.

Pada tahap inilah peserta didik akan membangun dan menciptakan pengetahuan nya terkait generalisasi ataupun konsep.

4. Penutup dan pengimplikasian

Kegiatan belajar akan dapat diakhiri jika peserta didik dapat menguasai dan menyebutkan ciri-ciri dari adanya konsep yang mendeskripsikan keterkaitan yang ada pada generalisasi.

Pada fase ini dapat memberi manfaat kepada peserta didik, diantaranya :

  • Pengembangan kemampuan dalam pengenalan sebuah informasi yang dirasa kurang terbukti.
  • Mengembangkan kemampuan peserta didik untuk dapat berpikir lebih kritis lagi dalam memecahkan dan memahami persoalan-persoalan yang akan dibahasnya.

Dalam pengimplikasiannya ini hanya mencakup tugas take home atau juga tugas di tempat duduk. Namun penerapan ini tetap dibimbing oleh pendidik karena peserta didik akan butuh bantuan pendidik dalam kegiatan belajar ini.

Pendidik juga akan melakukan pengawasan dan mengulas strategi awal dari penerapan fase ini yang dilakukan oleh peserta didik .

Hal ini dimaksudkan agar dapat memperkokoh kegiatan belajar dengan upaya membantu adanya ketimpangan antara praktik yang dilakukan peserta didik secara mandiri dengan belajar yang dibimbing oleh pendidik.

Prosedur Model Pembelajaran Discovery Learning

NoProsedur Model Pembelajaran Discovery Learning
1Stimulation
2Problem statement
3Data Collection
4Data Processing
5Verification
6Generalization

Terdapat enam hal yang dilakukan dalam penerapan model pembelajaran discovery learning, diantaranya adalah :

1. Stimulation

Stimulation

Pendidik akan memberikan penjelasan yang disampaikan lewat contoh terkait dengan inti sebuah materi.

Kegiatan ini umumnya akan membuat peserta didik merasa kebingungan dan mengakibatkan peserta mengambil tindakan untuk menyelidiki serta mencari tahu secara independen agar bisa memahami suatu materi.

Pendidik akan melontarkan beberapa pertanyaan-pertanyaan dan buku panduan bagi peserta didiknya sehingga dapat membantu dalam pemahaman materi dengan lebih mudah.

Selain itu peserta didik akan merasa dibantu dan dipermudah dalam kegiatan mencari solusi dari permasalahan yang sedang dibahasnya.

Adapun peran penting yang dimiliki pada tahap stimulasi ini meliputi pengembangan dan pengeksplorasian peserta didik mengenai materi yang disajikannya secara mandiri.

Kegiatan ini dilakukan dengan strategi pemberian pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan kepada peserta didiknya.

Kemudian mereka akan mencari dan menggali secara mandiri untuk dapat menemukan jawaban yang sesuai dengan pertanyaan yang telah diberikan oleh pendidik.

2. Problem Statement

Problem statement

Pendidik selalu memotivasi peserta didik dalam kegiatan mencari dan menemukan solusi dari permasalahan yang sedang diangkat. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan cara:

  1. Melakukan identifikasi masalah
  2. Membuat jawaban sementara (hipotesis) mengenai pertanyaan-pertanyaan yang ada.
  3. Menganalisis permasalahan.

Kegiatan ini mempunyai tujuan untuk melatih peserta didik agar menjadi terbiasa dalam mengatasi dan memecahkan sebuah permasalahan.

3. Data Collection

Data Collection

Pengumpulan data dan informasi yang mencakup :

  1. Mengamati objek,
  2. Memahami literatur
  3. Mewawancarai beberapa narasumber terkait
  4. Melakukan kegiatan uji coba

Para peserta didik akan terlibat secara aktif dalam penemuan yang berkaitan dengan persoalan yang sedang dibahas yang dimaksudkan agar hipotesis yang telah dibuat sebelumnya terbukti benar.

4. Data Processing

Data Processing

Kegiatan pengelompokan data yang telah didapatkan dari beberapa sumber, yang diperhitungkan dengan teknik tertentu. Hal ini akan lebih mudah dicerna dan dipahami oleh orang lain.

Data processing ini akan membentuk konsep yang dapat menciptakan suatu pengetahuan baru pada peserta didik.

Akan tetapi, sebelum melakukan kegiatan data processing ini harus membuat bukti yang masuk akal yang nantinya dapat menentukan apakah layak atau tidak jika dijadikan sebagai solusi.

5. Verification

Verification

Kegiatan ini bermaksud agar dalam kegiatan belajar akan menciptakan proses yang menyenangkan dan berjalan dengan lancar.

Pendidik juga akan memberikan peluang dalam penemuan teori dan konsep.

6. Generalization

Generalization

Tahap akhir menarik kesimpulan.

Langkah-langkah atau Sintaks Discovery Learning

NoLangkah-langkah atau Sintaks Discovery Learning
1Orientation
2Hypothesis Generation
3Hypothesis Testing
4Conclusion
5Regulation

Terdapat lima langkah yang perlu diterapkan dalam model pembelajaran discover learning. Diantaranya adalah:

1. Orientation

Orientation

Pada langkah awal dalam model pembelajaran discovery learning ini peserta didik akan didorong agar dapat memahami dan memperhatikan informasi yang disampaikan oleh pendidik.

Informasi tersebut dapat mencakup latar belakang, pengenalan kejadian atau masalah, dan menghubungkan antara kejadian denga ilmu pengetahuan lama yang telah dipelajari sebelumnya.

Pada kegiatan orientation ini, dapat menimbulkan kemampuan peserta didik dalam hal menafsirkan, menganalisis, serta mengevaluasi. Dengan demikian akan melatih peserta didik untuk berpikir kritis.

Pada tahap ini, pendidik akan menyajikan materi dengan menyesuaikan tentang pengalaman atau kejadian nyata.

Kemudian peserta didik akan dipusatkan dalam memahami materi beserta permasalahan yang ada.

Suatu kejadian yang telah dipresentasikan peserta didik di depan kelas akan lebih mudah dinilai oleh pendidik.

2. Hypothesis Generation

Hypothesis Generation

Hypothesis generation yaitu kegiatan dimana pemerolahan data mengenai suatu kejadian yang telah laksanakan dalam orientation.

Dalam kegiatan ini, akan dibentuknya sebuah hipotesis yang saling berkaitan dengan permasalahan.

Peserta didik akan mulai memahami masalah yang terjadi dan menemukan tujuan yang ada dari kegiatan pembelajaran ini.

Pada langkah Hypothesis generation ini terdapat manfaat yang bisa diambil seperti pengembangan keahlian peserta didik dalam hal menafsirkan, menganalisis, serta mengevaluasi dan mengambil kesimpulan.

3. Hypothesis Testing

Hypothesis Testing

Tahap ini merupakan output dari langkah ketiga, yakni Hypothesis generation. Dalam Hypothesis generation ini keabsahannya kurang bisa dipercaya yang mengakibatkan peserta didik harus melakukan kegiatan Hypothesis testing ini.

Pada langkah Hypothesis testing, peserta didik diarahkan agar dapat membuat strategi dan dapat melaksanakan sebuah penelitian agar dapat mengkaitkan hasil eksperimen menjadi absah atau terbukti.

Dalam melakukan kegiatan pada langkah ini, peserta didik didorong dalam hal pengembangan keahlian dalam mengatur diri sendiri, menganalisis, menafsirkan, dan juga mengevaluasi.

4. Conclusion

Conclusion

Pada kegiatan conclusion ini, peserta didik akan melakukan kegiatan mengulas kembali terkait hipotesis yang sebelumnya telah dikembangkan dengan bukti dari hipotesis testing.

Peserta didik akan memilih fakta yang sudah teruji melalui tahap hipotesis testing. Dalam kegiatan ini peserta didik akan merubah terkait hipotesis yang lama dengan hipotesis yang baru.

Pada langkah conclusion ini, dapat meningkatkan perkembangan peserta didik dalam tahap menganalisis, menyimpulkan, menafsirkan, menjabarkan, serta mengevaluasi.

5. Regulation

Regulation

Pada langkah regulation, peserta didik akan melaksanakan kegiatan yang meliputi penyusunan strategi/teknik, pemeriksaan dan pengevaluasian.

Dalam menyusun strategi, akan menghubungkan antara kegiatan pemutusan tujuan dan model yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut.

Kegiatan mementoring (memeriksa) ialah aktivitas memahami sebuah kebenaran dari aksi yang telah dilakukan oleh peserta didik yang mana berkaitan dengan hasil strategi yang telah disusun sebelumnya.

Kemudian pendidik akan menerima dan memeriksa hasil yang telah ada, sehingga konsep dapat sesuai dengan kegiatan dalam belajar.

Langkah regulation dapat membuat peserta didik akan lebih mampu dalam kegiatan evaluasi, penjabaran,

 Kelebihan dan Kekurangan Discovery Learning

Kelebihan dan Kekurangan Discovery Learning

1. Kelebihan

  • Dalam kegiatan belajar peserta didik dapat terlibat secara aktif. Hal ini disebabkan peserta didik telah menyelesaikan masalah dan menemukan ilmu secara mandiri.
  • Pada penerapan model pembelajaran discovery learning akan dapat memahami materi secara lebih luas dan mendalam.

Hal ini disebabkan karena peserta didik dapat menafsirkan dan menemukan ilmu pengetahuan nya sendiri agar bisa bertahan lama dalam ingatannya.

  • Menjadikan peserta didik untuk lebih termotivasi dalam menemukan dan memahami materi lagi. Hal ini akan menimbulkan antusias peserta didik akan lebih berkembang.
  • Peserta didik akan lebih mampu berbagi ilmu pengetahuannya dalam berbagai aspek.
  • Melatih peserta didik agar dapat terbiasa belajar secara mandiri.

2. Kekurangan

  • Peserta didik yang mempunyai kemampuan rendah, tentunya akan kesulitan dalam menjabarkan dan berpikir dalam sebuah pengetahuan.
  • Model pembelajaran discovery learning dalam kegiatan praktek kurang bisa menjangkau jumlah peserta didik yang banyak.  Hal ini juga akan memakan waktu yang lebih lama.
  • Jika model pembelajaran discovery learning digunakan secara menerus, maka peserta didik maupun pendidik akan menjadi kurang nyaman.
  • Model pembelajaran discovery learning kurang memfasilitasi dalam peningkatan kemampuan keterampilan, konsep serta emosi peserta didik.
  • Dalam penerapan model pembelajaran discovery learning, materi yang disampaikan oleh pendidik, meyebabkan peserta didik tidak dapat memilih terkait kemampuannya dalam berpikir.

Kesimpulan

Pada dasarnya, model pembelajaran discovery learning (pembelajaran penemuan) ialah kegiatan yang dilakukan oleh peserta didik dalam memahami arti, konsep sulit, dan menghubungkan sesuatu yang nantinya akan diambil sebuah kesimpulan.

Model pembelajaran discovery learning akan dapat dikatakan berhasil jika peserta didik dapat tergerak semangatnya dalam penemuan sebuah teori, konsep serta prinsip.

Model pembelajaran discovery learning dapat diterapkan melalui obesrvasi, penilaian, pemilihan, prediksi dan penyimpulan.

Kegiatan itu dapat disebut dengan proses kognitif peserta didik dan kegiatan discovery ialah proses mental peserta didik dalam menganalisis prinsip dan konsep dalam pikiran peserta didik.

Yang banyak ditanyakan

Apa itu Model pembelajaran Discovery learning?

Model pembelajaran Discovery learning ini adalah sebuah model pembelajaran yang mendorong siswanya untuk memahami materi-materi yang diberikan secara mandiri.

Apa peran pendidik dalam model pembelajaran Discovery learning?

peran pendidik dalam model pembelajaran ini adalah mengawasi jalannya kegiatan belajar serta memberikan topik yang akan dibahas.

Apa kelemahan dari model pembelajaran Discovery Learning?

Dalam penerapan model pembelajaran discovery learning, materi yang disampaikan oleh pendidik meyebabkan peserta didik tidak dapat memilih terkait kemampuannya dalam berpikir.

Penutup

Demikian penjelasan terkait diterapkannya model pembelajaran discovery learning (pembelajaran penemuan), dimana dalam pengimplikasiannya sangat berguna dalam meningkatkan pengetahuan peserta didik.

Pendidik juga selalu memilah dan memilih terkait model pembelajaran yang nantinya akan diterapkan pada kegiatan belajar mengajar peserta didik.

Agar dapat mencapai suatu tujuan pembelajaran yang maksimal serta terstruktur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Kalau ada sesuatu yang ingin ditanya, silakan tinggalkan komentar atau hubungi melalui Halaman Kontak yang tersedia