Level Kognitif

Level Kognitif
Level kognitif adalah sebuah cara untuk menjabarkan kemampuan siswa dalam beberapa level. Simak lebih lanjut untuk informasi lebih lengkapnya

Kemajuan jaman pada era sekarang mengharuskan berbagai macam perubahan, terutama dalam lingkup pendidikan dan pembelajaran.

Seperti halnya pembahasan terkait level kognitif yang sangat penting diketahui oleh para pendidik dalam pembuatan sebuah indikator yang harus diraih oleh peserta didik.

Pengertian Level Kognitif

Pengertian Level Kognitif
Level kognitif ialah tingkat kemampuan atau keterampilan yang dimiliki oleh para peserta didik baik individu atau kelompok yang mencakup tiga level kognitif.

Level kognitif tersebut antara lain level knowing, level appliying, dan juga level reasoning.

Pada proses level kognitif terbagi dalam tiga level yang diantaranya meliputi :

  • Jenjang pertama (C1) dan (C2) : mengingat dan memahami,
  • Jenjang kedua (C3) : mengaplikasikan,
  • Jenjang ketiga (C4), (C5), dan (C6) : menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta.

Tujuan dari level kognitif ini ialah mengacu pada kegiatan otak.

Menurut Pakar ahli taksonomi, seluruh upaya yang berkaitan dengan kegiatan atau aktifitas otak (mental) ialah tergolong pada ranah kognitif, dan ranah kognitif tersebut terdiri dari enam tingkat mulai dari tingkat terendah sampai dengan tingkat tertinggi.

Baca juga artikel Penguatan Pendidikan Karakter

 (Tabel) Level Kognitif

(Tabel) Level Kognitif Taksonomi Bloom

Level kognitif ini dibagi menjadi enam jenjang, diantaranya pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehension), penerapan (application), analisis (analysis), sintesis (syhenthesis), dan evaluasi (evaluating).

NoKlasifikasiDeskripsiKata kerja oprasional
1.Pengetahuan (knowledge)Kemampuan atau keterampilan dalam hal mengingat dan mengulas kembali terkait istilah, konvensi, fakta khusus, kategori dan klasifikasi, metodologi serta penelitian.mengutip, menyebutkan, meniru, membilang, menjelaskan, menggambar, identifikasi, penunjukan, mendaftar, membilang, menunjukkan, memberi label, memproduksi, memasangkan, menamai, menempel, membaca, meniru, mencatat, menulis, meninjau, mempelajari, memilih, menyuruh,  menelusuri, memberi kode, mentabulasi, menulis, dan lain-lain.
2.Pemahaman (Comprehension)Kemampuan dan keterampilan dalam pemahaman suatu materi serta intruksi, Penginterpretasian dan pernyataan ulang dengan menggunakan kata kata sendiri. Kemampuan dan keterampilan ini meliputi interpretasi, translasi, dan ekstrapolasi. Misalnya : merangkum atau meringkas suatu materi pelajaran.menjelaskan, mengkategorikan, mencirikan, merinci, Mengakomodasikan, mengasosiasikan, menghitung, membandingkan, menggelapkan, mengkontraskan, mengubah, menguraikan, mempraktekkan, mendiskusikan, menggali, menerangkan, meringkas, mencontohkan, mempolakan, memperluas, menyempitkan, menyimpulkan, merangkum, menjabarkan, dan lain-lain.
3.Penerapan (Application)Kemampuan dan keterampilan dalam penerapan sebuah konsep, informasi, serta prinsip dalam kondisi nyata yang sebelumnya belum pernah dialami. Misalnya : penggunaan panduan untuk menghitung suatu gaji.memerlukan, menyesuaikan, menerapkan, mengalokasikan, mengurutkan, menentukan, menangkap, menugaskan, memperoleh, mencegah, membiarkan, mencanangkan, menangkap, memodifikasi, melengkapi, merobohkan, membangun, membiasakan, menentukan, mendeskripsikan, mendemonstrasikan, menggambarkan, melatih,  memanipulasi, dan lain-lain.
4.Analisis (Analysis)Suatu kemampuan atau keterampilan dalam penguraian sebuah materi dan menjadikannya komponen yang lebih jelas lagi. Misalnya : menganalisis sebab terjadinya peningkatan harga jual dalam laporan keuangan.memeriksa, menganalisis, mengumpulkan, memeriksa, memecahkan, merasionalkan, menegaskan, mendeteksi, mendiagnosis, memprediksi, menyeleksi, mementaskan, mendokumentasikan, menjamin, menguji, mencerahkan, menjelajah, mengumpulkan, menata, mengelola, dan lain-lain.
5.Sintesis (Synthesis)Kemampuan dalam menciptakan produk dan membuat kombinasi dari beberapa elemen untuk menimbulkan struktur yang unik. Pada tahap ini, tiap individu disarankan agar dapat membuat teori sendiri atau hipotesis dengan mengkombinasikan berbagai ilmu pengetahuan.mendisain, mengombinasikan, mengubah,  mengarang, menciptakan, merevisi, merancang, merangkai, merekap,  menghubungkan, merekontruksi, menyimpulkan, dan lain-lain.
6.Evaluasi (evaluating)Kemampuan dan keterampilan dalam kegiatan menilai dan melakukan evaluasi yang didasari dengan acuan, norma, atau suatu kriteria. Misalnya : melakukan perbandingan terkait nilai ulangan dengan kunci jawaban.membandingkan, menyimpulkan, mengkritik, mengapresiasi, menilai, mempertahankan, mengkaji, mengevaluasi, menyatakan,  membuktikan, menyesuaikan, mengkoreksi, membenarkan, menemukan, dan lain-lain.

Level Kognitif

Mengacu pada pedoman penulisan soal tahun 2017, level kognitif dibagi menjadi tiga level, yakni:

1. Level 1 (Knowing)

 Level 1 (Knowing)

Pada level ini peserta didik mempunyai kemampuan atau keterampilan standar minimum dalam rangka  kegiata penguassan pelajaran (knowing)

  • Menampilkan suatu ingatan serta pemahaman dasar terkait pada materi pelajaran yang bias menciptakan suatu generalisasi secara sederhana.
  • Menunjukkan suatu tingkatan dasar dalam kegiatan pemecahan subuah persoalan atau permasalahan dalam suatu kegiatan belajar, minimal dengan menggunakan satu cara.
  • Menunjkkan sebuah pemahaman dasar terkait beberapa label, grafik-grafik dan serta berbagai materi-materi visual yang lain.
  • Kegiatan pengkomunikasian terkait beberapa fakta dasar yang memanfaatkan terminology yang sederhana.

2. Level 2 (Applying)

Level 2 (Applying)

Pada level ini, peserta didik akan mempunyai suatu kemampuan dalam pengaplikasian (applying)

  • Menunjukkan pengetahuan serta pemahaman peserta didik terkait dengan materi pelajaran dan nantinya akan dapat menerapkan berbagai gagasan dan berbagai konsep pada suatu konteks tertentu.
  • Kegiatan intrepentasi dan analisis terkait sebuah informasi dan berbagai data.
  • Kegiatan interpretasi terkait berbagai grafik, tabel-tabel, serta beberapa materi visual yang lain.
  • Kegiatan pengkomunikasian secara jelas serta terorganisir dalam menggunakan sebuah terminology.

3. Level 3 (Reasoning)

Level 3 (Reasoning)

Pada level ini, peserta didik akan mempunyai sebuah kemampuan atau keterampilan dalam menalar dan berpikir secara logika (reasoning).

  • Menunjukkan pemahaman serta pengetahuan yang mendalam terkait sebuah informasi pelajaran serta bias mengaplikasikan berbagai konsep dan gagasan-gagasan pada kondisi yang sudah dirasa familiar ataupun dengan menggunakan sebuah cara yang lebih berbeda.
  • Menunujukkan pemahaman serta pengetahuan yang mendalam terkait sebuah informasi pelajaran serta bias mengapikasikan berbagai konsep dan gagasan-gagasan pada kondisi yang sudah dirasa familiar ataupun dengan menggunakan sebuah cara yang lebih berbeda.
  • Menunujukkan pemahaman serta pengetahuan yang mendalam terkait sebuah informasi pelajaran serta bias mengapikasikan berbagai konsep dan gagasan-gagasan pada kondisi yang sudah dirasa familiar ataupun dengan menggunakan sebuah cara yang lebih berbeda.
  • Menunujukkan pemahaman serta pengetahuan yang mendalam terkait sebuah informasi pelajaran serta bias mengapikasikan berbagai konsep dan gagasan-gagasan pada kondisi yang sudah dirasa familiar ataupun dengan menggunakan sebuah cara yang lebih berbeda.
  • Menunujukkan pemahaman serta pengetahuan yang mendalam terkait sebuah informasi pelajaran serta bias mengapikasikan berbagai konsep dan gagasan-gagasan pada kondisi yang sudah dirasa familiar ataupun dengan menggunakan sebuah cara yang lebih berbeda.
  • Menunujukkan pemahaman serta pengetahuan yang mendalam terkait sebuah informasi pelajaran serta bias mengapikasikan berbagai konsep dan gagasan-gagasan pada kondisi yang sudah dirasa familiar ataupun dengan menggunakan sebuah cara yang lebih berbeda.

Pengertian HOTS dan LOTS

Pada dasarnya, banyak yang belum mengerti dan mengetahui terkait HOTS dan LOTS. padahal soal-soal jenis HOTS pernah diselipkan pada ujian nasional 2018 tahun lalu.

Akan tetapi, dalam penerapannya banyak peserta didik yang mengeluh terkait perihal ini. Pasalnya soal-soal ujian dianggap sangat sulit. Berikut ini penjelasan lebih lanjut terkait HOTS dan LOTS.

1. HOTS (Higher Order Thinking Skill)

HOTS

Pada mulanya, kata HOTS ini didapat dari konsep Benjamin S. B dkk. yang terdapat  dalam buku yang memliki judul Taxonomy of Educational Objectives: The Classification of Educational Goals (1956).

Buku ini menciptakan kategori menurut tingkat pemikiran yang bermula dari yang paling rendah sampai yang tertinggi.

Konsep Benjamin S. B, dkk ini ialah sebuah tujuan belajar yang sebelumnya telah dibagi kedalam tiga ranah, ranah tersebut meliputi :

  1. Kognitif (keterampilan atau kemampuan mental peserta didik terhadap pengetahuan).
  2. Afektif (sisi emosi yang ada dalam diri peserta didik yang berhubungan dengan sikap dan perasaan).
  3. Psikomotorik (kemampuan atau keterampilan fisik yang dimiliki oleh peserta didik).

Konsep taksonomi dalam penentuan sebuah tujuan pembelajaran ini dapat dikatakan sebagai tujuan akhir dari suatu kegiatan pembelajaran.

Maka, setelah kegiatan belajar tertentu, peserta didik diharapkan untuk dapat mengadopsi sebuah keterampilan, pengetahuan dan mengadopsi sikap yang baru.

HOTS ini juga termasuk ke dalam ranah kognitif yang terdapat pada yang memiliki tujuan untuk mengembangkan sebuah keterampilan mental yang berkaitan dengan sebuah pengetahuan.

Lorin Anderson, David Karthwohl, dkk. pada 2001 telah merevisi ranah kognitif dan mengubah urutannya menjadi 6, antara lain sebagai berikut :

  1. Mengingat (remembering)
  2. Mencipta (creating)
  3. Memahami (understanding)
  4. Mengevaluasi (evaluating)
  5. Mengaplikasikan (applying)
  6. Menganalisis (analyzing)

Tingkatan atau level 1 sampai 3 dapat dikatakan sebagai LOTS (kemampuan berpikir tingkat rendah), dan level 4 hingga 6 dapat disebut dengan HOTS (kemampuan berpikir tingkat tinggi).

TUJUAN SOAL HOTS

Menurut Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti, HOTS ialah cara atau teknik yang digunakan untuk menguji apakah peserta didik akan dapat melakukan kegiatan analisis, menghitung, membandingkan, dan lain-lain.

Soal dengan jenis HOTS akan mampu mendorong dan mengembangkan peserta didik dalam melaksanakan suatu penalaran tingkat tinggi.

Hal ini difungsikan agar peserta didik tidak terpacu pada satu jawaban yang diperoleh melalui kegiatan menghafal tetapi tidak mengetahui dan mengerti terkait konsep ilmunya.

HOTS juga menjadi salah satu tuntutan yang terdapat pada model pembelajaran abad 21, seperti kreatif, kolaboratif, berpikir kreatif dan komunikatif.

Soal dengan tipe HOTS ini terkadang menampilkan pilihan kata yang tidak biasa atau tidak umum.

Dan juga memerlukan pembendaharaan kata yang lebih mendalam terhadap arti dari sebuah kata yang bergantung dengan penggunaannya pada sebuah kalimat.

Soal jenis Higher Order Thinking Skill (HOTS) ini dianggap sangat penting untuk dijadikan bekal dalam menghadapi dan masuk dalam dunia perkuliahan.

2. LOTS (Lower Order Thinking Skills)

LOTS

LOTS ialah sebuah keterampilan berpikir secara fungsional. Dalam LOTS ini sebuah kemampuan didapat dengan melalui beberapa hal, antara lain :

  1. Meniru,
  2. Membeo,
  3. Mengikuti berbagai pengaturan dan pengarahan,
  4. Menginggat,
  5. Memperoleh informasi kembali,
  6. Mengidentifikasi, dan
  7. Mengkuantifikasi.

Adapun dampak negatif adanya LOTS (pembelajaran tingkat rendah), antara lain sebagai berikut :

  • Nantinya peserta didik hanya akan berpikir secara fungsional saja dan tidak dapat berpikir secara kompleks.
  • Peserta didik akan lebih mementingkan dan mengutamakan urusan-urusan yang sifatnya fungsional saja, tidak dalam konteks sistem.
  • Peserta didik tidak mempunyai rasa percaya diri sebab tidak paham terkait dengan konteks sistem yang menyebabkan tidak dapat melakukan kompetensi dalam pengambilan suatu keputusan.

Selain itu juga tidak mandiri dan tidak berani dalam hal bertanggung jawab.

  • Hanya sekedar membuat SDM yang mekanistik. Meskipun perilaku sistem telah berubah, akan tetapi masih patuh secara kaku terkait peraturan.
  • Tidak dapat memunculkan sumber daya yang memiliki pemikiran kritis, inovatif dan kreatif, sebab pencapaian SDM yang unggul hanya dapat timbul dengan melalui Higher Order Thinking Skills (HOTS)

Simak juga artikel Minat Belajar

Tabel KKO Level Kognitif & Dimensi Pengetahuan

Pengetahuan (C1)Pemahaman (C2)Penerapan (C3)Analisis (C4)Penilaian (C5)Kreasi (C6)
Mengutip Menyebutkan Menjelaskan Menggambar Membilang Mengidentifikasi Mendaftar Menunjukkan Memberi label Memberiindeks Memasangkan Menamai Menandai Membaca Menyadari Menghafal Meniru Mencatat Mengulang Mereproduksi Meninjau Memilih Menyatakan Mempelajari Mentabulasi Memberi kode Menelusuri MenulisMemperkirakan Menjelaskan Mengkategorikan Mencirikan Merinci Mengasosiasikan Membandingkan Menghitung Mengkontraskan Mengubah Mempertahankan Menguraikan Menjalin Membedakan Mendiskusikan Menggali Mencontohkan Menerangkan Mengemukakan Mempolakan Memperluas Menyimpulkan Meramalkan Merangkum Menjabarkan  Menugaskan Mengurutkan Menentukan Menerapkan Menyesuaikan Mengkalkulasi Memodifikasi Mengklasifikasi Menghitung Membangun Membiasakan Mencegah Menentukan Menggambarkan Menggunakan Menilai Melatih Menggali Mengemukakan Mengadaptasi Menyelidiki Mengoperasikan Mempersoalkan Mengkonsepkan Melaksanakan Meramalkan Memproduksi Memproses Mengaitkan Menyusun Mensimulasikan Memecahkan Melakukan MeramalkanMenganalisis Mengaudit Memecahkan Menegaskan Mendeteksi Mendiagnosis Menyeleksi Merinci Menominasikan Mendiagramkan Megkorelasikan Merasionalkan Menguji Mencerahkan Menjelajah Membagankan Menyimpulkan Menemukan Menelaah Memaksimalkan Memerintahkan Mengedit Mengaitkan Memilih Mengukur Melatih MentransferMembandingkan Menyimpulkan Menilai Mengarahkan Mengkritik Menimbang Memutuskan Memisahkan Memprediksi Memperjelas Menugaskan Menafsirkan Mempertahankan Memerinci Mengukur Merangkum Membuktikan Memvalidasi Mengetes Mendukung Memilih MemproyeksikanMengabstraksi Mengatur Menganimasi Mengumpulkan Mengkategorikan Mengkode Mengombinasikan Menyusun Mengarang Membangun Menanggulangi Menghubungkan Menciptakan Mengkreasikan Mengoreksi Merancang Merencanakan Mendikte Meningkatkan Memperjelas Memfasilitasi Membentuk Merumuskan Menggeneralisasi Menggabungkan Memadukan Membatas Mereparasi Menampilkan Menyiapkan Memproduksi Merangkum Merekonstruksi

Tabel Kata Kerja Operasional pada Tiap Level Kognitif

NoDimensi proses kognitif dan kategoriKata kerja oprasional untuk perumusan indicator atau tujuan
1,MENGINGAT (C1)  Pengertian : mengambil pengetahuan yang terdapat pada memori jangka panjang.
 1.1 MengenaliPenyebutan, penunjukkan, pengidentifikasian, pemilihan.
 1.2 Mengingat kembaliMengungkap kembali, penulisan ulang, dan penyebutan atau menyebutkan ulang.
2.MEMAHAMI (C2)Pengertian : mengkonstruksikan terkait makna dari suatu materi dalam pembelajaran, mencakup apa yang telah diucapkan, ditulis, serta yang telah digambarkan oleh si pendidik.
 2.1 MenafsirkanKegiatan penafsiran, pengungkapan dengan menggunakan kata-katanya sendiri, memparafrasekan, pemberian suatu contoh, pengklasifikasian,kegiatan mengkelompokkan, identifikasi yang didasarkan dengan suatu kategori, meringkas atau merangkum, pembuatan ikhtisar, penyimpulan, pengambilan kesimpulan, pembandingan, penjelaskan, membedakan,penguraian, pendeskrispsikan dan menuliskan.
 2.2 MencontohkanMencontohkan, memberi  contoh.
 2.3 MengklasifikasikanMengklasifikasikan, mengidentifikasi dengan didasari kategori tertentu dan mengkelompok-kelompokkan.
 2.4 MerangkkumMerangkum atau meringkas, membuat ikhtisar.
 2.5 MenyimpulkanMenyimpulkan, mengambil suatu kesimpulan.
 2.6 MembandingkanMembandingkan, membedakan.
 2.7 MenjelaskanMenguraikan,mendeskripsikan, menjelaskan, dan menuliskan.
3.MENGAPLIKASIIKAN (C3)Pengertian : penggunaan atau penerapan suatu prosedur dalam suatu kondisi tertentu.
 3.1 MengeksekusiMelakukan suatu gerakan, menggerakan, menghitung, memperagakan sesuai teknik, mengiplementasikan, memodifikasi,mentransfer, menerapkan, dan menggunakan.
 3.2 MengimplementasikanMengimplementasikan, menerapkan, menggunakan, mentransfer dan memodifikasi.
4.MENGANALISIS (C4)Pengertian : pemecahan suatu materi yang menjadi bagian penyusunnya serta penentuan keterkaitan antar bagian tersebut dan kaitannya dengan seluruh tujuan ataupun struktur.
 4.1 MembedakanMembedakan, menganallisis suatu perbedaan, mengorganisasian, menunjukkan suatu bukti, pembuatan diagram, menghubungkan, menganalisis suatu kesalahan, analisis kelebihan dan memperlihatkan sebuah sudut pandang.
 4.2 MengorganisasiMengorganisasikan, pembuatan diagram, peunjukkan bukti,dan menghubungkan.
 4.3 MengatribusikanMenganalisis terkait kesalahan, kelebihan dan memperlihatkan sebuah sudut pandang.
5.MENGEVALUASI (C5)Pengertian : pemgembilan sebuah keputusan yang didasarkan dengan sebuah kriteria atau standart.
 5.1 MemeriksaMemeriksa, menunjukkan suatu kelebihan, memperlihatkan kekurangan, pembandingan, mengkritik, dan menilai.
 5.2 MengkritikMengkritik serta menilai.
6MENCIPTA (C6)Pengertian : pembagian berbagai bagian untuk menciptakan sesuatu yang baru dan menciptakan suatu produk yang orisinal.
 6.1 MerumuskanMerencanakan, merancang, merumuskan, membuat, memproduksi, dan mendesain.
 6.2 MerencanakanMerancang, merencanakan, dan mendesain.
 6.3 MemproduksiMembuat serta memproduksi.

Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan diatas terkait dengan level kognitif yang dibagi menjadi tiga tingkatan yang diantaranya ialah level knowing, level appliying, dan juga level reasoning.

Hal ini dapat diartikan bahwa apabila peserta didik dalam mencapai suatu kecerdasan pastinya akan melalui berbagai variabel.

Dengan mengacu pada teori-teroi diatas, pendidik akan memiliki gambaran terkait strategi dan sistem yang digunakan dalam mencerdaskan Tiap peserta didiknya.

Yang Banyak Ditanyakan

Apa itu Level Kognitif?

Level kognitif ialah tingkat kemampuan atau keterampilan yang dimiliki oleh para peserta didik baik individu atau kelompok yang mencakup tiga level kognitif.

Apa saja ranah dalam Level Kognitif?

Level Kognitif meliputi 3 ranah yaitu afektif, kognitif, dan psikomotorik

Penutup

Demikian artikel terkait level kognitif yang sangat penting dipahami oleh para pendidik agar indikator pembelajaran dapat diraih dengan maksimal.

Pendidik juga perlu mempelajari terkait Ranah Taksonomi Bloom yang lain seperti ranah afektif dan ranah psikomotor.

0 Shares:
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like
Minat Belajar
Read More

Minat Belajar

Dalam diri manusia pasti melakukan sebuah interaksi dengan lingkungan yang ada di sekitarnya. Apabila sesuatu tersebut dianggap menarik…
Metodologi Penelitian
Read More

Metodologi Penelitian

Metodologi penelitian bermanfaat untuk pemetaan pekerjaan penelitian secara menyeluruh untuk mencapai hasil dan tujuan yang diharapkan. Baca lebih…
Taksonomi Bloom
Read More

Taksonomi Bloom

Dalam pendidikan, taksonomi ini dimanfaatkan dalam pengklasifikasian suatu tujuan pendidikan. Salah satunya adalah Taksonomi Bloom. Simak penjelasannya dalam…